Berita / Akademik

Prof. Soedjana Sapiie: Sebuah Pemikiran Brilian Tentang Reformasi dan ITB

Samuel Simon - Kamis, 14 Agustus 2008, 23:55:44
BANDUNG, itb.ac.id - Tidak banyak akademisi yang memeperoleh kesempatan untuk menjadi seorang Guru Besar, apalagi menjadi Guru Besar Emeritus. Karena pengabdian luar biasa yang ditunjukkannya, Prof. Soedjana Sapiie diangkat menjadi Guru Besar Emeritus pada tahun 2007 silam. Untuk menggambarkan perjalanan karirnya di ITB, maka beliau diminta untuk memberikan orasi di Balai Pertemuan Ilmiah ITB pada Jumat (8/8). Pada orasi tersebut, Prof. Soedjana Sapiie mengangkat pemikirannya tentang reformasi dan ITB. Gerakan Reformasi adalah gerakan perubahan menentang suatu sistem bernegara yang telah kehilangan legitimasinya. Gerakan yang tercetus di pertengahan tahun 1990-an ini lahir secara evolusioner bertahap, hingga akhirnya menumbangkan suatu rezim yang telah berkuasa lebih dari tiga puluh tahun. ITB terlibat pula dalam gerakan itu, di mana Senat ITB mengambil peranan yang sangat signifikan. Peranan Senat ITB itulah yang melahirkan gerakan simbiosistik antara sivitas akademika ITB, mahasiswa dan alumninya. Selain itu, ITB pula yang berperan dalan menggerakan universitas lainnya untuk menggalang kekuatan moral guna mendukung gerakan mahasiswa. Di awal pidatonya, Soedjana berbicara tentang Orde Baru dan ideologi pembangunan. Orde Baru yang mewarisi kondisi ekonomi yang sangat parah, memulai eranya dengan harapan dan kepercayaan yang sangat besar dari masyarakat Indonesia. Pada era ini, diterapkan suatu konsep pembangunan berencana secara bertahap yang dikenal sebagai konsep Akselerasi Pembangunan Dua Puluh Lima Tahun. Namun, seiring dengan berakhirnya era tersebut, runtuh pula konsep itu. Hal yang mengemuka setelah terjadinya reformasi adalah semangat kebebasan menghidupkan kembali demokrasi. Pada bagian lain, Prof. Soedjana Sapiie membawakan sebuah refleksi mengenai ITB. Ia memberikan gambaran tentang jati diri ITB sebagai sebuah lembaga perguruan tinggi. Sudah seharusnya ITB memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah sebuah lembaga perguruan tinggi yang harus menjangkau suatu lingkup disiplin keilmuan tertentu, dan dalam lingkupnya itu, ITB merealisasikan dirinya. Lembaga perguruan tinggi adalah sebuah komunitas, bukan bisnis atau birokrasi. Ia adalah komunitas yang mendedikasikan dirinya untuk memburu dan mendesiminasikan pengetahuan; mempelajari, memperjelas, dan menjaga nilai-nilai kehidupan; serta memajukan masyarakat yang dilayaninya. Dedikasi tersebut hanya mungkin dilakukan dengan baik bila ITB menghayati nilai-nilai tertentu sebagai landasannya untuk berpikir dan bertindak. Nilai-nilai tersebut adalah integritas dan kebebasan. Di akhir pidato tersebut, Soedjana memberikan pemikirannya tentang apa yang dapat dilakukan ITB dalam gerakan reformasi Indonesia saat ini. Hal pertama yang harus dilakukan adalah ITB kembali menjadi pelopor untuk menyatukan para rektor universitas negeri maupun swasta di Indonesia. Hal tersebut sama halnya dengan yang terjadi di tahun 1998. Rektor-rektor yang berkumpul mengajak para politisi nasional untuk membangun diri melalui pembangunan ekonomi dengan tenang, paling tidak untuk 10 tahun ke depan. Hal kedua adalah agar ITB terlibat dalam pembangunan bangsa yang kredibel. Pemikiran beliau berikutnya adalah agar ITB dapat lebih memanfaatkan dosen-dosen profesionalnya sebagai kekayaan dan kekuatan ITB sebenarnya yang tidak ternilai dan tak tergantikan. Selain itu, ITB harus pula mendorong terbinanya kelompok intelektual kampus, di samping mempertahankan posisinya sebagai yang terbaik. Pemikiran beliau yang terakhir adalah agar ITB dapat mempertahankan dirinya sebagai pulau-pulau integritas dan kebebasan serta menjadi aset bangsa yang tidak tergantikan dalam mendukung pembangunan. Sebagai penutup pidatonya, Prof. Soedjana Sapiie mengutip kata-kata mutiara hasil penyair Belanda. Kata-kata inilah yang dipakai Bung Hatta ketika membela diri di sidang pengadilan di Negeri Belanda 80 tahun lalu, dan juga disampaikan oleh Soedjana dalam Dies Natalis ITB di tahun 1978 semasa pergolakan mahasiswa, Er is maar een land Dat mijn land kan zijn Het groeit met de daad En die daad is mijn Diterjemahkan secara bebas menjadi, Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu perbuatanku.