Pidato Rektor pada Penerimaan Mahasiswa Baru ITB 2021

Saudara akan segera memulai sebuah perjalanan akademik, sebuah proses pembelajaran, yang dipandu dan disupervisi oleh segenap dosen-dosen, serta didukung oleh para tenaga kependidikan. Tujuan dari perjalanan akademik tersebut tentunya bukan sebatas didapatkannya gelar akademik. Yang tidak kalah pentingnya adalah dicapainya kompetensi akademik, yang mencakup aspek pengetahuan kognitif, ketrampilan, sikap serta kepribadian. Semakin tinggi gelar akademik yang Saudara raih, diharapkan semakin tinggi pula kualitas sikap dan kepribadian yang terbentuk.

Proses pembelajaran tersebut di atas akan Saudara tempuh melalui kurikulum akademik dan sistem pembelajaran di program-program studi. Selain proses formal tersebut, untuk mengoptimalkan capaian pembelajaran, penting juga Saudara berupaya menjalin interaksi-interaksi baik dengan sesama mahasiswa, dengan para dosen, dan juga dengan pihak-pihak lain di luar kampus yang relevan dengan prospek karir Saudara. Interaksi-interaksi tersebut akan memperluas dan memperkaya proses pembelajaran yang Saudara jalani.

Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Riset & Teknologi, telah mencanangkan kebijakan yang dikenal sebagai ‘Merdeka Belajar – Kampus Merdeka’, atau MBKM. Kebijakan ini menekan pentingnya ‘perluasan kebebasan’ bagi mahasiswa, selama menempuh proses pembelajaran di kampus. Perluasan kebebasan ini mencakup: i) perluasan pembelajaran dengan cara mengambil sejumlah mata kuliah di luar bidang studi utama; dan ii) perluasaan interaksi dengan berbagai pihak baik di dalam maupun di luar kampus.

Perluasan pembelajaran diharapkan akan memperkaya mahasiswa dengan pengetahuan multi-disiplin, selain pengetahuan dalam bidang studi utama yang menjadi pilihannya. Sedangkan perluasan interaksi diharapkan akan memperkaya mahasiswa dengan keanekaragaman perspektif dalam melihat suatu permasalahan, memperkuat kepekaan dan kepedulian sosial, serta mengembangkan kemampuan untuk berkolaborasi dalam menjawab permasalahan.

Dengan adanya perluasan kebebasan tersebut di atas, diharapkan kompetensi akademik yang Saudara capai di kampus akan semakin relevan dengan permasalahan dan tantangan di ‘dunia nyata’. Dan dengan demikian, ketika telah menyelesaikan studi kelak, Saudara akan memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi di berbagai bidang pekerjaan yang menjadi pilihan Saudara.

Segenap hadirin yang saya muliakan,
Para mahasiswa baru yang saya banggakan,

Sebagaimana sama-sama kita alami, sampai hari ini kita masih dilanda pandemi covid-19. Hal yang sama juga dialami oleh seluruh masyarakat dunia. Dalam beberapa bulan belakangan, sejumlah negara, termasuk Indonesia, mengalami kelonjakan kasus positif karena munculnya varian virus yang baru. Khususnya dalam dua bulan terakhir, kita mengalami situasi yang berat dan memprihatinkan karena kelonjakan kasus tersebut. Pemerintah dan segenap tenaga medis di tanah air telah bekerja secara optimal untuk mengatasi situasi tersebut, sehingga secara berangsur-angsur situasinya mulai membaik. Sebuah pelajaran penting yang dapat kita petik dari situasi yang berat tersebut adalah bahwa penanganan pandemi ini memerlukan kebersamaan, upaya bahu-membahu, serta solidaritas di antara kita semua.

Para ahli epidemiologi telah menguraikan bahwa penularan covid-19 itu berlangsung dengan pola seperti network, atau jejaring. Seseorang yang terpapar itu ibaratnya simpul, yang melalui koneksi dengan orang-orang lain, penularan dapat terjadi. Orang-orang lain yang tertular tersebut kemudian menjadi simpul-simpul baru, yang melalui koneksi-koneksi dengan orang-orang lain, penularan menyebar semakin luas, dan seterusnya. Semakin tinggi mobilitas dan interaksi sosial, semakin cepat jejaring itu meluas, dan semakin luas pula penularan-penularan. Proses penularan yang berpola jejaring ini membuat lintasan penyebaran covid-19 tidak mudah untuk dilacak.

Sejak di masa awal pandemi, kita telah mengenal apa yang disebut dengan ‘3M’, yaitu protokol proteksi kesehatan yang terdiri atas: Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak. Para pakar kesehatan meyakini bahwa protokol 3M tersebut berfungsi efektif dalam mencegah penularan covid-19. Saya percaya, kita semua sudah mengenal dengan baik protokol 3M tersebut. Namun kita juga sama-sama tahu bahwa sering terjadi pelanggaran terhadapnya. Pertanyaannya, mengapa pelanggaran itu sering terjadi? Tentunya, tidak seorangpun akan dengan sengaja melanggar protokol kesehatan, dengan tujuan membuat dirinya terpapar dan menderita sakit.

Menurut hasil sebuah studi di UC Davis, Amerika Serikat, salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk melanggar protokol kesehatan adalah ‘persepsi akan risiko’. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang kita kenal dengan baik, atau kita sayangi, kita cenderung beranggapan bahwa orang itu bukanlah sumber risiko. Dengan perkataan lain, faktor kedekatan personal akan mempengaruhi persepsi akan risiko.

Kita semua membutuhkan koneksi sosial. Menjalani pembatasan sosial (seperti PSBB, PPKM) untuk kurun waktu yang lama tentu dapat menimbulkan rasa kesepian. Kita merindukan pertemuan dengan orang-orang yang kita kenal baik, atau kita sayangi, seperti keluarga atau teman dekat. Tetapi, pertemuan dengan orang-orang terdekat tersebut memiliki potensi risiko yang relatif tinggi, justru karena kita cenderung mempersepsikan yang sebaliknya. Hal ini memberikan sebuah penjelasan mengapa sering muncul klaster penularan melalui perkumpulan dengan orang-orang terdekat apakah dari lingkungan keluarga, kolega ataupun teman.

Segenap mahasiswa baru yang saya banggakan,
Para hadirin yang saya hormati,

Saat ini Pemerintah telah semakin menggencarkan pelaksanaan vaksinasi, dengan harapan agar bisa mempercepat terbentuknya herd immunity. Pemerintah juga telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) demi menekan dan mengendalikan penyebaran covid-19. Saya percaya bahwa partisipasi kita semua dalam mendukung program vaksinasi dan PPKM tersebut adalah hal yang sangat penting bagi kebaikan kita bersama.

Menjalankan protokol kesehatan 3M merupakan langkah yang kunci untuk mempercepat berakhirnya pandemi ini. Untuk ini, penting kita mengenali faktor-faktor yang bisa membuat diri kita sendiri lengah, sehingga akhirnya melanggar protokol kesehatan tersebut. Salah satu cara untuk meminimalkan kelengahan tersebut adalah menerapkan kaidah ‘patuh protokol 3M’ secara konsisten ke siapa pun, termasuk teman dekat dan keluarga. Kita terapkan kaidah bahwa siapa pun perlu menggunakan masker, terutama jika di dalam ruangan. Kita terapkan kaidah menjaga jarak kepada siapa pun. Dalam menjalani interaksi sosial, kita coba membiasakan untuk sedikit berbincang tentang riwayat perjalanan: dari mana saja kita hari ini, dan bertemu dengan siapa saja.

Ke depan, kita berharap bahwa herd immunity akan segera terbentuk. Kita akan memasuki masa yang disebut sebagai ‘new normal’. Kita perlu belajar untuk bisa ‘hidup berdampingan’ dengan covid-19. Ini bukanlah hal yang baru. Saat ini pun kita sudah hidup berdampingan dengan sejumlah penyakit menular yang lainnya. Memasuki new normal, kita perlu memiliki perilaku yang baru, safe behavior. Perilaku ini bisa kita capai dengan meningkatkan pengetahuan tentang pola penyebaran penyakit menular, dan faktor-faktor yang membuat kita lengah. Membentuk perilaku yang baru membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan pembiasaan. Semakin kita berhasil membentuk perilaku baru yang safe, maka akan semakin leluasa kita menjalankan kembali berbagai kegiatan sosial kita.

Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada seluruh mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung Tahun Akademik 2021/2022, dan selamat datang di kampus kebanggaan kita bersama ini.

Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada para mahasiswa penerima Penghargaan Ganesha Perkasa, Ganesha Rasa, Ganesha Karsa, Ganesha Karya, dan Ganesha Prize, juga apresiasi kepada para mahasiswa terbaik di tingkat program studi maupun di tingkat Tahap Persiapan Bersama.

Selamat mengisi hari-hari produktif di masa muda untuk menjadi insan dewasa yang sebaik-baiknya, yaitu menjadi insan yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Meskipun kita masih berada dalam situasi yang tidak mudah, mari kita terus tingkatkan dan pelihara semangat untuk senantiasa belajar, berkarya dan berinovasi untuk nusa dan bangsa. Dengan kebersamaan, bahu membahu, dan saling mengingatkan, mari kita menyiapkan diri memasuki masa new normal dengan membentuk kebiasaan baru: safe behavior.

Dalam keharmonian, kita bersama-sama menghadapi masa sulit
Dalam keharmonian, kita maju bersama
In harmonia progressio

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih melimpahkan Rahmat dan Karunia kepada kita dan seluruh bangsa Indonesia, sehingga kita semua dapat segera keluar dari situasi krisis ini, dan meraih kehidupan bersama yang lebih baik. Aamiin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bandung, 16 Agustus 2021

Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D.
Rektor Institut Teknologi Bandung