Merefleksikan Kesadaran di Era Kuantum dan AI

Oleh M. Naufal Hafizh

Editor -

BANDUNG - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB menggelar Bedah Buku Topikal "Filsafat Sains: Dari Newton, Einstein hingga Sains Data" Senin (6/5/2024). Acara ini mengusung tema "AI and Quantum Physics and Consciousness: Can Nature and AI Have Consciousness?" dan menghadirkan Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng., CISA, ATD, penulis buku tersebut, sebagai salah seorang pembicara.

Beliau menyampaikan kedahsyatan fisika kuantum yang telah mengubah dunia secara fundamental dalam 130 tahun terakhir. Fisika kuantum memiliki kekuatan prediktif yang luar biasa dan telah melahirkan berbagai inovasi teknologi revolusioner, mulai dari semikonduktor hingga komputer kuantum.

Namun, di balik kedahsyatannya, fisika kuantum menyimpan misteri dan perdebatan interpretasi yang belum terpecahkan hingga kini. Beliau menyoroti persoalan superposisi, efek pengukuran, dan partikel entanglement yang menantang pemahaman konvensional tentang realitas.

   

"Fisika kuantum menunjukkan bahwa realitas tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ada banyak interpretasi yang berbeda mengenai apa itu gelombang kuantum, bagaimana pengukuran mempengaruhi realitas, dan bagaimana partikel yang terpisah jauh dapat saling berhubungan," katanya.

Beliau membahas pemikiran dua tokoh fisika kuantum yang menghubungkan konsep kesadaran dengan prinsip-prinsip kuantum, yaitu David Bohm dan Roger Penrose.

David Bohm, seorang fisikawan terkemuka yang juga seorang spiritualis, mengusulkan bahwa kesadaran adalah entitas mendasar dari alam semesta dan terhubung dengan "ordo implisit", sebuah domain yang tidak teramati secara langsung.

Roger Penrose, pemenang Nobel Fisika 2020, mengembangkan teori "objective reduction" yang menjelaskan kesadaran sebagai fenomena nonmatematis yang muncul dari proses kolaps gelombang kuantum. Penrose mengaitkan fenomena ini dengan "alam ide Platonik", sebuah domain matematis abstrak yang melandasi realitas fisik.

Beliau menegaskan bahwa fisika kuantum dan AI mengajak kita untuk merefleksikan kembali pemahaman tentang kesadaran dan realitas. Penting untuk mengembangkan paradigma baru dalam sains dan filsafat yang mampu mengakomodasi fenomena nonmaterial dan kesadaran sebagai aspek fundamental dari alam semesta.

"Kita perlu berpikir terbuka dan memperluas cakrawala pandang kita untuk menyambut era kuantum dan AI. Jangan terpaku pada paradigma lama yang membatasi pemahaman kita tentang realitas dan kesadaran," ujarnya.

Reporter: Hafsah Restu Nurul Annafi (Perencanaan Wilayah dan Kota, 2019)


scan for download