Mengenal Ilmuwan Muda ITB Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja dan Budaya Membaca Buku di Balik Berbagai Prestasinya
Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Sosok Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja menjadi salah satu representasi ilmuwan muda ITB yang menorehkan berbagai capaian di tingkat nasional maupun internasional. Selain sebagai dosen, ia juga mengemban amanah sebagai Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat-Pusat Penelitian dan Pusat Unggulan IPTEK (PUI) di Direktorat Riset dan Inovasi ITB.
Perjalanan akademiknya sangat cemerlang. Ia meraih gelar doktor saat berusia 24 tahun dan mendapatkan pengakuan sebagai salah satu ilmuwan dalam daftar Top 2% dunia versi Elsevier dan Stanford University berkat risetnya di bidang nanomaterial. Ia juga menerima Penghargaan Achmad Bakrie ke-20 kategori Ilmuwan Muda, serta berbagai apresiasi lain seperti dosen muda dengan publikasi Q1 terbanyak di ITB dan dosen berprestasi di tingkat fakultas. Ketertarikannya pada bidang kimia telah tumbuh sejak masa sekolah dan terus ia tekuni hingga jenjang doktoral dan profesi insinyur. Konsistensi dalam riset dan publikasi ilmiah menjadi kunci utama dari berbagai capaian tersebut.
“Penghargaan itu sebenarnya hanyalah bonus dari konsistensi dalam meneliti dan menulis,” ujarnya.
Momentum World Book and Copyright Day yang diperingati setiap 23 April menjadi refleksi penting baginya untuk kembali menekankan peran buku dalam perjalanan seorang ilmuwan.
Peran Buku dalam Perjalanan Ilmuwan

Bagi Dr. Grandprix, buku merupakan fondasi utama dalam membangun kapasitas intelektual. Ia menegaskan bahwa kemampuan menulis dan memublikasikan hasil riset tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan membaca.
“Menulis itu manifestasi dari membaca. Kita tidak bisa menyusun gagasan tanpa terlebih dahulu memahami berbagai pemikiran dari apa yang kita baca,” katanya, Rabu (22/4/2026).
Sejak muda, ia telah terbiasa membaca berbagai jenis buku, mulai dari buku pelajaran, sains populer, hingga komik. Kebiasaan ini secara perlahan membentuk rasa ingin tahu serta memperkaya cara berpikirnya.
Membentuk Logika dan Kedalaman Berpikir

Menurutnya, membaca merupakan proses menyelami cara berpikir penulis. Dari sana, pembaca dapat memahami alur logika, hubungan sebab-akibat, hingga membedakan antara argumen dan opini.
“Semakin banyak kita membaca, semakin kita sadar bahwa pengetahuan itu selalu membuka ruang untuk pertanyaan dan pengembangan baru,” ungkapnya.
Proses ini memungkinkan seseorang untuk mengolah dan mensintesis berbagai gagasan menjadi pemahaman baru, sekaligus memperkuat kemampuan analitis yang menjadi ciri utama seorang ilmuwan.
Tantangan di Era Informasi Singkat

Di tengah maraknya informasi singkat di era digital, ia menilai bahwa buku tetap memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membangun pemahaman yang utuh. Informasi singkat cenderung hanya memberikan gambaran permukaan, sementara buku menghadirkan kedalaman pemikiran.
“Buku mengajak kita masuk ke kedalaman pemikiran penulis, sementara informasi singkat sering kali hanya bersifat permukaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa membaca buku juga melatih fokus dan kesabaran dalam memahami suatu persoalan secara menyeluruh.
Budaya Membaca dan Pesan untuk Mahasiswa

Budaya membaca, menurutnya, memiliki keterkaitan erat dengan budaya ilmiah di kampus. Lingkungan akademik yang sehat ditandai dengan kebiasaan membaca, berdiskusi, serta membangun argumen berbasis data.
Dalam menumbuhkan minat baca, ia menekankan pentingnya kesadaran dari dalam diri mahasiswa, serta dukungan lingkungan kampus yang mendorong aktivitas literasi. Ia pun mengajak mahasiswa untuk terus menjaga kebiasaan membaca di tengah derasnya arus informasi.
“Teruslah membaca secara mendalam. Kemampuan untuk fokus dan berpikir dalam justru menjadi kekuatan yang langka dan berharga,” pesannya.
Ia juga membagikan beberapa rekomendasi buku, di antaranya The Art of War karya Sun Tzu, Hidden Potential karya Adam Grant, Ikigai karya Hector Garcia dan Francesc Miralles, serta Atomic Habits karya James Clear.
Melalui refleksi ini, peringatan Hari Buku Sedunia tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga pengingat bahwa membaca adalah fondasi utama dalam membangun kedalaman berpikir dan memperkuat budaya ilmiah di lingkungan kampus.
.jpeg)




