Mengenal Konsep Cyral-Spiriterial untuk Keselarasan Desa Masa Depan

Oleh Adi Permana

Editor -


BANDUNG, itb.ac.id – Indonesia dengan bentang wilayah yang sangat luas memiliki pertumbuhan penduduk yang beragam. Di tengah kemajuan zaman ini, masih banyak daerah di Indonesia yang masih mempertahankan identitasnya sebagai masyarakat desa.

Konsep desa yang belum banyak menerapkan tren teknologi masa kini bukan berarti tidak maju. Namun, tiap-tiap daerah memiliki latar belakangnya masing-masing sehingga perkembangannya tidak bisa disamakan dengan kota-kota besar yang lebih dinamis.

Menurut Singgih Susilo (DP’86) dalam Kuliah Umum KU4078 Studium Generale ITB, menyampaikan konsep ini sebagai istilah Cyral-Spiriterial. Cyral berasal dari kata city dan rural, sedangkan spiriterial berasal dari kata spiritual dan material. Kemajuan suatu bangsa kini tidak lagi dilihat dari aspek global, melainkan dari aspek kontekstual yang berkaitan dengan kesinambungan antara spiritual dan material seperti yang ditunjukkan pada grafik spiriterial.

“Kita mengambil contoh pada zaman dahulu di Eropa pada abad pertengahan pengaruh gereja alias aspek spiritual sangat kuat. Hal ini membuat kemajuan peradaban mengalami stagnasi. Seiring berjalannya waktu, di masa kini justru orang-orang Eropa mengalami dominasi aspek materialistis yang melampaui jauh aspek spiritual. Kedua ketimpangan ini menurut konsep spiriterial sangat mengancam bagi keselarasan peradaban suatu bangsa,” ujarnya.

Berbeda halnya dengan Indonesia dari masa ke masa yang justru lebih selaras dari bangsa lainnya. Contoh mudahnya sering kita jumpai ketika musim panen tiba di suatu desa beberapa masih melakukan ritual tertentu. Atau sesederhana ketika adanya suatu acara sakral tidak luput dari adat istiadat setempat. Konsep spiriterial Indonesia sebenarnya sudah terlaksana sejak dahulu yang bahkan kini sedang ingin negara-negara maju capai. Namun, beberapa kondisi di Indonesia cenderung mengikuti tren kemajuan peradaban yang berbasis materialistis seperti negara maju.

Peran desa di Indonesia sangat penting. Lagi-lagi konsep spiriterial berkaitan dengan masa lalu dan masa kini suatu daerah sehingga kemajuan Indonesia dengan bangsa lain tidak bisa disamakan sama sekali. Di sinilah konsep cyral berperan yakni dengan menyinergikan nilai-nilai baik dari city dan rural. Nilai yang dibawa di antaranya gaya kerja berbasis socent (social-enterprise), kolaborasi aktif pihak gommunity (government-community), keberjalanan humture (human centered-culture), dan budaya cohelp (compete-help).

Menurut Singgih, setidaknya konsep new rural atau cyral harus memegang prinsip SLOC di antaranya small, local, opened, dan connected. Indonesia sebagaimana mestinya memiliki akar yang kuat dengan adanya sejarah panjang. Hanya saja belum mahir dalam melihat peluang yang ada.

Beruntungnya di masa kini para generasi muda merasa tidak lagi hanya puas dengan pencapaian ekonomi saja, tetapi juga ingin memiliki karier yang bermakna bagi kehidupan dengan menyelesaikan masalah sekitar.

Di sisi lain juga menurut Singgih, dunia membutuhkan pendidikan yang kontekstual. Kontekstual bermakna bahwa selaiknya pendidikan yang diterapkan pada suatu desa harus mampu menjawab masalah di desa tersebut. Contohnya suatu desa di pesisir sebaiknya dipupuk pendidikannya dengan kegiatan bahari bukannya malah memaksakan kurikulum nasional yang belum tentu cocok.

Harapannya para lulusan ITB mampu mengimplementasikan segenap keilmuannya untuk memajukan desa asalnya sesuai potensi masing-masing. Seperti beliau yang banyak melahirkan karya dari desa yang membuatnya menjadi mendunia.

Reporter: Lukman Ali (Teknik Mesin/FTMD, 2020)


scan for download