6 Mahasiswa ITB Menangkan Kompetisi Internasional Desain Sistem Kontainer Ultra-Cold

Oleh Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id — Enam mahasiswa ITB yang terdiri dari lima orang mahasiswa Teknik Fisika dan satu orang mahasiswa Sains dan Teknologi Farmasi berhasil memenangkan kompetisi engineering design dari ASHRAE Setty Family Foundation Applied Engineering Challenge.

Tim tersebut di antaranya Axel Dawne (13319076), Febricetta Zahraketzia Sarwono (13319080), I Made Wirarathya Putramas (13320012), Joel Fredericko Sumbowo (13319024), Farhan Afdhalul Ihsan (13319085), dan Kanita Prameswari (10719015). Pada tahun 2022, kompetisi tersebut berfokus pada tema desain sistem refrigerasi ultra-cold yang sejalan dengan tujuan ASHRAE (8/8/2022).

Meluasnya pandemi Covid-19 menjadikan proses pengiriman vaksin secara global sebagai suatu tantangan yang patut diprioritaskan. Berdasarkan data yang dilaporkan, sebanyak 10 persen vaksin mengalami kerusakan saat proses pengiriman akibat fluktuasi temperatur.

Bertitik tolak dari fakta tersebut, ASHRAE memfasilitasi para mahasiswa untuk merancang desain kontainer 40’ yang mendukung pengiriman global dengan temperatur yang distabilkan di angka -70oC. Sistem refrigerasi yang diciptakan juga harus memperhatikan beberapa variabel sistem lain seperti kelembaban, portabilitas, dan kondisi luar ruangan untuk menjamin lingkungan terbaik untuk vaksin. Menjawab tantangan ini, keenam mahasiswa yang tergabung dalam Satset Team merancang desain sistem refrigerasi dengan konsep adaptif dan efisien.

“Konsep desainnya adalah merancang reefer yang adaptif dan efisien. Adaptif di sini maksudnya bagaimana reefer bisa dipakai di berbagai belahan dunia dengan cara mendesain sistem refrigerasi yang bisa beroperasi di berbagai jenis lingkungan. Kemudian agar reefer bisa efisien dalam hal konsumsi energi, kami melakukan beberapa intervensi dan modifikasi,” Axel menjelaskan.

Modifikasi yang dimaksud meliputi tiga aspek yaitu sistem kontrol, jenis material, dan sumber energi. Reefer hasil rancangan Satset Team memanfaatkan neural network serta menggunakan material yang mampu meminimalisir masuknya panas dari lingkungan ke dalam reefer. Dalam hal energi, sumber daya listrik dari reefer dipadukan dengan jenis energi terbarukan.

Ide tentang perancangan ini, menurut penuturan mereka merupakan hasil brainstorming antarkelompok keahlian jurusan Teknik Fisika dengan jurusan Sains dan Teknologi Farmasi yang diwakili oleh Kanita (10719015). Satset Team lebih banyak mengandalkan metode ATM (amati-tiru-modifikasi) agar tidak perlu merancang desain dari awal.
Beberapa orang perwakilan Satset Team menuturkan, “Kami cari referensi tentang pengiriman suhu rendah itu bagaimana, mulai dari sirkulasi udara, material, insulasi, mesin, hingga sumber energi yang digunakan dalam sistem tersebut. Selain dari aspek sistem refrigerasi, perlu dilihat juga karakteristik dan stabilitas vaksinnya untuk merancang desain reefer yang sesuai.”

Berdasarkan kajian literatur yang mereka lakukan, sistem refrigerasi kontainer yang ada saat ini belum ada yang dapat menjaga temperatur secara konstan di angka -70oC. Kebanyakan reefer yang ada di pasaran hanya akan mengatur margin temperatur di suhu kurang dari -70oC untuk kemudian sistem mematikan pendingin secara otomatis. Mekanisme seperti ini dinilai kurang efektif karena sistem kontrol tidak stabil.

“Saat brainstorming kemarin sambil melihat-lihat contoh kontainer suhu sangat rendah yang sudah ada. Desain yang ada sebenarnya sudah bagus dan bisa dipakai untuk keperluan serupa. Hanya saja untuk desain yang kami ajukan lebih menekankan ke efisiensi energi dari segi sistem kontrol dan power supply,” ujar Febricetta mewakili kawan-kawannya.

Reporter: Hanifa Juliana (Perencanaan Wilayah dan Kota, 2020)


scan for download