Kuliah Umum FITB Jelaskan Perbedaan Effusive Eruption dan Explosive Eruption

Oleh Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.a.cid-Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengadakan webinar yang berjudul “Investigating the Mechanism and Products that Define Explosive and Effusive Eruption” pada Kamis, (9/9/2021). Webinar ini menghadirkan Michael Cassidy, seorang peneliti dari Oxford University, sebagai pemateri utama. Acara yang berlangsung secara virtual melalui Zoom Meeting ini dibuka oleh Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., dan dipandu oleh Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T.

Dr. Irwan mengawali acara dengan menyampaikan sejarah singkat dari pengawasan gunung berapi di Indonesia. Menurutnya, aktivitas volcano monitoring telah berlangsung sejak tahun 1920. “Tujuan utama dari volcano monitoring sangatlah sederhana dan mulia, yaitu untuk mengurangi korban jiwa,” kata Dr. Irwan.

Sesi materi dibuka dengan pemaparan dari Dr. Michael mengenai Effusive Eruption. Menurutnya, pada umumnya magma yang mengalir dari ledakan efusif memiliki kecepatan yang rendah sehingga efek yang ditimbulkan dari ledakan ini hanya terpusat di area sekitar gunung berapi. Aliran magma yang lambat ini memberi kesempatan kepada masyarakat dan pemerintah untuk melakukan evakuasi, sehingga dapat meminimalkan korban jiwa. Namun, pada beberapa kasus seperti erupsi Gunung Nyiragongo dan Gunung Merapi, magma dapat mengalir dengan kecepatan yang tinggi sehingga menimbulkan kerusakan yang besar.

Dr. Michael kemudian menyampaikan jika erupsi efusif sering ditemui pada gunung berapi yang memiliki lava mafik. Lava mafik yang dihasilkan dari erupsi ini dapat mengalir sampai berkilo-kilometer dari tempat keluarnya. Panas dari lava mafik juga dapat bertahan selama berbulan-bulan jika terinsulasi dalam sebuah lubang lava. “Lapisan atas dari aliran lava mafik mengalami fenomena auto-brecciated, yaitu pemecahan kerak lava yang telah beku menjadi beberapa gumpalan,” kata Dr. Michael.

Dr. Michael melanjutkan paparannya dengan penjelasan mengenai deposit ledakan efusif pada gunung berapi dengan lava felsic. Menurutnya, erupsi efusif dari lava felsic akan membentuk suatu kubah atau gumpalan baru di sekitar kawah erupsi. Hal ini dikarenakan oleh tingginya tingkat viskositas yang dimiliki oleh lava felsic. Kubah ini dapat menyumbat aliran lava sehingga memicu timbulnya erupsi-erupsi baru. Kubah yang terbentuk dari lava felsic yang membeku ini umumnya tidak stabil, sehingga berpotensi runtuh kapan pun juga.

Pemaparan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai Explosive Eruption. Menurut Dr. Michael, salah satu penyebab utama dari erupsi eksplosif adalah tersumbatnya lubang magma oleh lava felsic yang membeku. Erupsi eksplosif menyemburkan abu vulkanik dengan kekuatan yang sangat dahsyat dan dapat mencapai ketinggian puluhan kilometer. Abu vulkanik ini sendiri sebenarnya adalah magma yang hancur dalam proses erupsi.

“Efek dari erupsi eksplosif dapat dirasakan oleh seluruh penjuru negeri, atau bahkan seluruh dunia,” kata Dr. Michael. Abu vulkanik yang ditimbulkan oleh erupsi eksplosif dapat mengganggu penerbangan, merubah pola cuaca, dan menimbulkan hujan asam. Erupsi skala yang besar jika dapat mengakibatkan perubahan iklim global.

Pemaparan selanjutnya adalah mengenai Explosive Eruption pada gunung berapi dengan lava mafic. Menurut Dr. Michael, erupsi tipe ini jarang terjadi dan biasanya memiliki dampak yang lebih kecil, salah satunya adalah erupsi dari Gunung Rinjani. Dr. Michael menambahkan jika erupsi eksplosif dari lava mafic biasanya diiringi oleh muntahan aliran lava dari sumber erupsi.

Reporter: Favian Aldilla (Teknik Sipil, 2019)


scan for download