Webinar FITB: Mengkaji Bahaya Tsunami dari Aktivitas Gunung Berapi di Tengah Laut

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id— Peristiwa terjadinya tsunami di Tanjung Lesung Banten pada akhir 2018 merupakan salah satu bencana yang disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu island volcano yang ada di Indonesia. Letusan Gunung Anak Krakatau tidak secara langsung menyebabkan tsunami, melainkan letusan tersebut menyebabkan pasang tinggi dan longsor bawah laut yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya tsunami.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Sebastian Watt dari University of Birmingham Inggris saat menjadi pembicara tamu dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB). Webinar tersebut mengangkat judul Tsunamic Hazard on the Island Volcanoes, Jumat, 23 Oktober 2020.

Topik tersebut diangkat untuk membahas bahaya tsunami yang disebabkan oleh aktivitas island volcanoes atau gunung berapi di tengah laut yang dikelilingi oleh perairan. Kegiatan ini dipandu oleh Dr. Mirzam Abdurrahman (Dosen Teknik Geologi ITB) dan dihadiri oleh peserta dari prodi Geologi ITB dan non-Geologi.

Menurut Dr. Sebastian peristiwa tsunami yang disebabkan oleh aktivitas gunung berapi tengah laut sudah terjadi sejak dulu, salah satunya di Pulau Ritter, Papua Nugini pada 1888. Akibat aktivitas gunung berapi di pulau tersebut menyebabkan terjadinya longsor bawah laut dan memicu timbulnya tsunami setinggi 8 meter.


“Pada abad sebelumnya juga terjadi bencana yang serupa di Jepang pada 1792. Letusan Gunung Unzen menyebabkan terjadinya longsoran dan memicu timbulnya tsunami dengan ketinggian lebih dari 10 meter, setidaknya lebih dari 15.000 orang tewas dan peristiwa tersebut menjadi bencana gunung api terburuk yang terjadi di Jepang,” jelasnya.

Berdasarkan penelitian Auker dkk. (2013) Dr. Sebastian menyampaikan bahwa tsunami menjadi salah satu bahaya (hazard) akibat bencana gunung berapi yang menyebabkan 20% terjadinya insiden fatal (fatal incident). Terdapat beberapa proses yang menyebabkan terjadinya tsunami akibat aktivitas gunung berapi di tengah laut yaitu, underwater explosion akibat letusan gunung berapi di bawah laut, blast akibat letusan gunung berapi di atas laut, pyroclastic flows akibat aliran piroklastik (hasil letusan gunung berapi berupa gas vulkanik, abu vulkanik, dan batuan vulkanik) yang berpenetrasi ke lautan, caldera collapse akibat runtuhnya kaldera (kawah di atas gunung berapi), subaerial failure akibat terjadinya longsor di atas laut, dan submarine failure akibat terjadinya longsor di bawah laut.

Sabagai kesimpulan, Dr. Sebastian menyampaikan beberapa hal di antaranya, tsunami yang disebabkan oleh gunung berapi merupakan salah satu bahaya gunung berapi yang memberikan tantangan untuk diprediksi dan dilakukan mitigasi.

“Saat ini, teknik pemantauan yang ada baru bisa membantu untuk memprediksi terjadinya erupsi tetapi sulit untuk memprediksi tipe letusan dan kekuatannya. Selain itu, peristiwa letusan Anak Krakatau dan Ritter menjadi kunci sejarah untuk mengembangkan pengetahuan mengenai letusan lateral yang memicu timbulnya tsunami dan kajian studi untuk menguji dan mengembangkan model tsunami,” ujar Dr. Sebastian.

Reporter: Diah Rachmawati (Teknik Industri, 2016)