Logo

Berita

Institut Teknologi Bandung

24 April 2014
Current weather
26.5 C
Humidity:81 %

klik untuk memperbesar“Jangan jadi yang anti-antian, ” begitulah ucap Nabiel Makarim, MSM, MPA, mantan Menteri Lingkungan Hidup kita ketika memberikan kuliah umum di Aula Barat ITB, siang kemarin (13/3) yang bertajuk “Kebijakan Lingkungan Hidup di Indonesia dan Implementasinya”. Komentar tersebut diberikan oleh beliau untuk menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta tentang stigma negatif masyarakat Indonesia terhadap bidang pertambangan. “Jangan jadi anti pertambangan. Saya pribadi pro kepada pertambangan yang baik dan anti terhadap pertambangan yang merusak.”

Tepat pukul 14.08 WIB kuliah umum Pengetahuan Lingkungan BI-1001 “Kebijakan Lingkungan Hidup di Indonesia dan Implementasinya” dimulai dengan pemberian sambutan dari Intan Ahmad, Dekan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB Pembicara pada kuliah umum tersebut selain tentunya Nabiel Makarim sendiri adalah Devi N. Choesin, Ketua Program Studi Biologi SITH ITB Sejumlah enam peserta mengajukan pertanyaan yang diadakan dalam dua sesi, masing-masing sesi sejumlah tiga orang penanya. Kuliah umum tersebut berakhir tepat pukul 16.00 WIB.

Dalam kuliah umum yang dihadiri oleh kebanyakan mahasiswa S-1 ITB tingkat pertama yang sedang menjalani mata kuliah Pengetahuan Lingkungan tersebut, Nabiel Makarim menjelaskan teori-teori dasar tentang public policy dan kenyataan tentang public policy lingkungan hidup di Indonesia. Dalam kuliah umum tersebut Nabiel berulang kali menekankan bahwa kuliah tersebut tidaklah bersifat ‘apologetik’. Seperti yang telah diketahui khalayak, pada masa jabatannya sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim dihadang berbagai isu yang menorehkan citra buruk pada kinerjanya. Kasus Newmont dan Balongan Indramayu hanyalah sedikit dari isu yang timbul pada masa jabatannya pada tahun 2001-2004.


Kurang Menarik

Dalam sambutannya, Devi N. Choesin, Ketua Program Studi Biologi SITH ITB mengatakan bahwa tujuan dari diadakannya kuliah umum ini antara lain adalah agar para siswa yang sedang mengambil mata kuliah Pengetahuan Lingkungan dapat lebih memahami materi tentang kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. “Topik ini kami akui memang kurang menarik, membosankan, dan relatif sulit dipahami. Semoga dengan kuliah umum ini mahasiswa dapat lebih memahaminya dengan contoh-contoh kasus,” jelas beliau.

Nabiel membuka kuliah umumnya dengan memberikan sebuah contoh kasus. “Taruhlah ada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi yang ternyata beberapa personel di direksinya menjalankan kecurangan. Jika kalian diberi mandat oleh presiden untuk membenahinya, apa yang akan kalian lakukan?” tanya beliau kepada audiens. Beberapa jawaban audiens yang mengusulkan supaya ada personel dari direksi itu diganti mendapat tanggapan bahwa kita tidak bisa bertindak dengan tangan besi di saat ada kepentingan politik yang lebih besar terkait dengan kasus itu. Saat itu, menurutnya, jalan diplomasi ke pemangku-pemangku kepentingan itu adalah yang terbaik, “Sebab jika tidak justru Anda yang akan dikeluarkan dari sistem itu.”

Menurut Nabiel, ada empat masalah lingkungan hidup utama yang sedang dihadapi oleh Indonesia. Yakni: pencemaran di daerah urban dan yang berasal dari sektor industri, pertambangan yang destruktif, kerusakan lingkungan alam dan keanekaragaman hayati yang terancam.”Maka dari itu pelestarian lingkungan menuntut komitmen dari pemerintah, bisnis, dan masyarakat. Semua komponen pemerintah perlu mempunyai komitmen terhadap pelestarian.”


Tempat Nostalgia

Ditemui seusai memberikan kuliah umumnya, Nabiel mengaku bahwa ia pribadi memiliki ikatan emosional yang kuat dengan ITB “Saya hanya kuliah di tempat ini selama dua tahun, setelah itu saya belajar ke Australia dan menamatkan S-2 di Amerika. Tapi justru di ITB-lah saya mendapat kesan yang paling mendalam, karena selain saya bertemu istri saya untuk pertama kali di kampus ini, dahulu saya belajar sambil mengikuti gerakan mahasiswa. Saya masih terkenang masa-masa saya menginap di Mesjid Salman sewaktu mengikuti berbagai gerakan mahasiswa. Hal-hal seperti itu tidak akan Anda dapatkan di Harvard. Di sinilah tempat saya bernostalgia.”

(astrid)