Logo

Berita

Institut Teknologi Bandung

21 April 2014
Current weather
24.8 C
Humidity:86 %

BANDUNG, itb.ac.id - Bagi kalangan sivitas akademika dan peneliti di ITB, nama I Gede Wenten rasanya sudah tidak asing lagi. Dosen pengajar program studi teknik kimia ini baru saja meraih penghargaan B.J. Habibie Technology Award 2013 oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada Agustus lalu. Kiprahnya di dunia penelitian teknologi membranlah yang mengantarkan Wenten meraih penghargaan bergengsi tersebut. Setidaknya sudah terdapat lima belas buah hak paten yang ia miliki atas penemuan penemuannya dalam bidang teknologi membran.

Wenten merupakan pendiri indutri membran pertama dan satu-satunya di Indonesia. Salah satu penemuan Wenten adalah IGW Emergency Pump ,merupakan pompa yang dilengkapi dengan filter guna menyediakan air bersih dalam kondisi darurat. Uniknya, untuk mengoperasikan pompa ini tidak perlu menggunakan tenaga listrik, cukup menggunakan tangan. Ditambah, alat ini memiliki tingkat selektivitas yang tinggi sehingga mampu menghilangkan kekeruhan, bakteri, alga, spora, sedimen, kuman, dan koloid.

Motivasi Meraih Prestasi dari Orang Tua

Pria kelahiran 15 Februari 1962 ini menghabiskan masa kecilnya di Desa Buleleng, Bali. Tidak mudah jalan yang dilalui Wenten untuk mencapai keberhasilannya seperti sekarang ini. Pria yang di Eropa dikenal sebagai revolusioner terbesar industri bir dalam lima puluh tahun terakhir ini merupakan bungsu dari 11 bersaudara. Wenten sempat berhenti sekolah ketika SMA dikarenakan masalah finansial, namun rupanya kesulitan-kesulitan yang Wenten muda alami turut membentuk pribadinya yang mandiri dan pekerja keras. Ayah Wenten, Made Sarta (almarhum) bekerja sebagai buruh nelayan yang menyewa perahu, tetapi hal tersebut tidak lantas menjadikan orang tua Wenten mengesampingkan pendidikan anak-anaknya. "Meski mereka tidak banyak bercerita, saya sangat merasakan kasih sayang mereka. Mereka dedikatif sekali untuk menyekolahkan anak-anaknya. Segala usaha mereka kerahkan," tukas Wenten.

Beranjak SMA, orang tua Wenten meninggal dunia. Wenten berusaha tegar dan tetap bertekad untuk meneruskan sekolahnya, "Keberhasilan saya banyak dibantu oleh nasib. Waktu itu saya seperti kehilangan induk. Saya bisa lulus, dan bahkan kuliah di Bandung juga karena ngikut orang," selorohnya. Wenten selalu berusaha untuk terus belajar, latar belakang ekonominya membuat Wenten selalu memaksimalkan setiap kesempatan yang ditemuinya hingga sekarang banyak prestasi dan dedikasi yang ia berikan. Wenten juga berkeinginan mempekerjakan banyak orang, inilah salah satu motivasinya untuk membuat satu perusahaan di bidang aplikasi teknologi membran.

Selanjutnya, Wenten mengawali pendidikan tingginya di Jurusan Kimia ITB tahun 1982. Lulus dari ITB pada tahun 1987, Wenten kemudian melanjutkan studinya di Denmark Technology University, Kopenhagen. Wenten meraih gelar master bioteknologi tahun 1990 dan sekaligus program teknik kimia pada tahun 1995 di Denmark Technology University. Ketika mengambil program masternyalah, Wenten pertama kali menekuni bidang teknologi membran. Wenten bisa dibilang merupakan peneliti yang loyal dalam penelitian, dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang ia raih sampai saat ini.

 

 Sabet Berbagai Penghargaan

Tahun 1994, Wenten memperoleh paten dari alat yang ia kembangkan untuk peningkatan penyaringan pada industri bir. Pada tahun yang sama, Wenten kembali meraih penghargaan tertinggi dari Filtration Society London berupa Suttle Award, sebagai bukti tingginya nilai inovasi temuannya, sebuah penghargaan yang hanya dianugerahkan kepada peneliti di bawah usia 35 tahun. Sejak tahun 2002, Wenten membangun pabrik pembuatan membrane di Bandung. Pabrik tersebut memproduksi berbagai alat yang kesemuanya menggunakan teknologi membran dan pembuatannya dilakukan oleh putra bangsa ini sendiri. Terakhir, Agustus lalu Wenten dianugerahi BJ Habibie Technology Award. Penghargaan tersebut diberikan kepada pelaku teknologi yang berjasa, berprestasi dan berdedikasi kepada bangsa dan negara Indonesia dalam inovasi dan berkreasi untuk menghasilkan karya nyata teknologi di bidangnya masing-masing.

Sebagai seorang peneliti di, Wenten optimis Indonesia memiliki sistem pendidikan yang sudah cukup untuk menghasilkan para peneliti yang berkualitas. Yang menjadi kendala justru lingkungan kerja para peneliti menurut Wenten.  Selain itu, potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia bisa dioptimalkan oleh para peneliti, dengan begitu hasil penelitian akan lebih optimal dan lebih memiliki nilai khas Indonesia. "Harapan saya, semoga fasilitas penelitian untuk pengembangan keilmuan di negeri ini lebih diperhatikan. Dengan begitu, diharapkan Indonesia mampu menghasilkan produk-produk penelitian yang lebih berkualitas lagi," tandasnya mengakhiri wawancara.

sumber gambar : www.beritasatu.com