Logo

Berita

Institut Teknologi Bandung

22 August 2014
Current weather
26.2 C
Humidity:71 %

BANDUNG, itb.ac.id - Tanggung jawab sosial yang diemban oleh seorang sarjana tentunya berbeda dengan tanggung jawab sosial saat masih berstatus mahasiswa. Hal ini lah yang menjadi bahasan utama dalam pidato yang disampaikan Rektor ITB, Prof. Akhmaloka, pada Sidang Terbuka ITB Wisuda Kedua Tahun Akademik 2012/2013. Menurutnya seorang sarjana Ipteks memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat.

Dalam perkuliahan seorang mahasiswa dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah dilatih untuk terbiasa menciptakan argumen-argumen dan pemikiran ilmiah. "Berpikir secara ilmiah berarti telah berpikir dengan pendekatkan pada kebenaran objektif," ujar Rektor ITB. Maka seharusnya seorang sarjana Ipteks dalam berpikir dan bertindak selalu melakukan pendekatan pada kebenaran dan menentang segala kebohongan dan kepalsuan. "Hal ini dapat dijadikan tameng yang paling kokoh untuk melawan godaan korupsi," sambungnya.

Pentingnya Keterbukaan pada Perbedaan Ipteks

Dalam pidatonya, Rektor ITB juga menyampaikan bahwa dengan adanya perbedaan dalam bidang Ipteks pada seiap program studi sebaiknya tidak dijadikan sebagai kotak-kotak penghambat. Adalah hal yang tidak mungkin apabila seseorang dapat menguasai seluruh bidang Ipteks.

Permasalahan yang ada di masyarakat harus diselesaikan secara multidimensional. Oleh karena itu keterbukaan pada perbedaan Ipteks sangatlah penting. Diperlukan integrasi antara bidang-bidang Ipteks tersebut untuk dapat menyelesaikan masalah secara utuh.

"Contoh nyata dari bersatunya bidang-bidang Ipteks adalah gadget," ujar Rektor ITB. "Sebuah gadget dibuat dengan berbagai bidang Ipteks didalamnya dan berintegrasi menjadi sebuah karya yang memberikan manfaat bagi manusia," jelasnya lagi.

Pengamalan Ipteks bagi Pembangunan Bangsa

"Tolok ukur kesuksesan bukan hanya dari jabatan yang diraih oleh seseorang tetapi yang paling pentig adalah sebesar apa manfaat yang ia berikan bagi orang lain," ujar Rektor ITB. Ilmu yang dipelajari di bangku kuliah akan percuma saja bila digunakan untuk kepentingan sebagian golongan saja tapi mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan atau orang lain.

Akhmaloka berpendapat bahwa salah satu cara untuk memberikan manfaat bagi orang lain adalah dengan turut membantu menjalankan program pemerintah. Salah satunya adalah program MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) dan MP3KI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia). Kedua program tersebut adalah program perencanaan pembangunan ekonomi Indonesia. "Seorang sarjana Ipteks memiliki tanggung jawab yang besar dalam MP3EI dan MP3KI karena pola pikir Ipteks sangat dibutuhkan di  sini," ujar Akhmaloka.

"Partisipasi dan kontribusi dalam pembangunan bangsa adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu dari seorang sarjana Ipteks karena tanggung jawab sosial seorang sarjana Ipteks adalah menjadi agen perubahan," tutup Akhmaloka.

Dok: Liga Film Mahasiswa ITB