Logo

Berita

Institut Teknologi Bandung

1 October 2014
Current weather
22.4 C
Humidity:84 %

BANDUNG, itb.ac.id - Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu negara dengan produksi hasil pertanian yang cukup besar. Salah satu produk pertanian yang utama di Indonesia adalah buah-buahan, terutama pisang. Saat ini Indonesia berada pada posisi ketujuh negara penghasil pisang terbesar di dunia. Indonesia mampu menghasilkan 6,3 juta ton pisang per tahunnya. Akan tetapi, produk pisang yang diekspor Indonesia masih sangat minim. Hal ini disebabkan karena kualitas pisang di Indonesia yang belum terlalu baik.

Indonesia memiliki tanah yang sangat subur dan iklim yang sesuai untuk pisang agar tumbuh dengan optimum. Tanaman pisang pun dapat tumbuh pada berbagai lokasi di Indonesia. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah buruknya perlakuan paska produksi, termasuk penyimpanan serta distribusi produk pisang. Di Indonesia, kebanyakan petani pisang menyimpan hasil panennya begitu saja di udara terbuka dengan penanganan yang asal-asalan saja. Tidak ada ruang khusus yang digunakan sebagai ruang penyimpanan hasil panen ini sehingga buah pisang ini mengalami proses pematangan dengan cepat dan menjadi busuk. Akibatnya produk pisang yang beredar di pasar kebanyakan tidak dapat bertahan lama dan cepat rusak. Padahal, untuk industri yang menggunakan produk pertanian seperti pisang atau buah lainnya, kerugian yang dapat ditekan jika kerusakan buah paska panen dapat dikurangi cukup besar.

Hal inilah yang melatarbelakangi Dr. Fenny M. Dwivany (Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati) beserta tim (The Banana Group) untuk melakukan penelitian guna meningkatkan ketahanan buah-buahan di Indonesia dari berbagai aspek, salah satunya adalah dari aspek fisiknya. Setelah diteliti, ternyata terdapat beberapa faktor yang dapat mempercepat proses pematangan buah, yaitu temperatur, tekanan, cacat fisik, serta komposisi udara di sekitar buah tersebut. Semua faktor ini dapat menginduksi gen penghasil etilen. Etilen sendiri adalah senyawa yang dapat meningkatkan laju pematangan buah. Oleh karena itu, jika faktor-faktor tersebut dapat membantu menginduksi gen penghasil etilen, tentunya juga dapat menjadi faktor penghambatnya. Dengan dasar inilah, Fenny dan The Banana Group membuat sebuah rancangan storage (penyimpanan) yang sesuai sehingga dapat menghambat proses pematangan buah tersebut.

Ruang penyimpanan untuk meningkatkan ketahanan buah ini umumnya disebut Food Storage Chamber (FSC). Ruang penyimpanan ini diatur pada suhu dan tekanan, serta dengan komposisi udara tertentu, sehingga induksi gen penghasil etilen dapat dikurangi. Akibatnya, buah dengan keadaan matang hijau dengan kondisi yang mulus dapat dipertahankan hingga produk buah ini sampai ke pasar. Tidak hanya kondisi fisik yang dapat dipertahankan dengan perlakuan ini, melainkan juga kadar air dan rasa dalam buah. Rencananya, prototipe FSC ini akan selesai di akhir tahun dan akan dipamerkan serta diujicoba oleh masyarakat. Selain dari aspek fisik, Fenny dan The Banana Group juga sedang melakukan penelitian mengenai rekayasa genetika untuk meningkatkan ketahanan buah sehingga dapat dilakukan perlakuan dari sebelum panen (pre-harvest) hingga sesudah panen (post-harvest).

Integrasi Berbagai Jurusan dan Pihak

The Banana Group adalah tim peneliti pisang yang terdiri dari tidak hanya dosen dan mahasiswa dari Program Studi Biologi saja melainkan juga bekerjasama dengan program studi lain seperti Program Studi Teknik Fisika serta Desain Produk. hal ini dikarenakan penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan ketahanan buah tidak hanya dilakukan dari segi biologisnya saja, melainkan dari segi aplikatifnya juga, seperti pengembangan storage maupun packaging yang tepat. Penelitian tentang pisang ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2004 lalu dan sudah bekerjasama dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Indonesia (LAPAN) untuk penelitian pengaruh gravitasi terhadap kematangan buah.

The Banana Group ini juga bekerjasama dengan Balai Besar Bioteknologi dan Genetika Tanaman (BIOGEN) serta institusi pendidikan lain seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Queensland University of Technology (QLD), Australia. Tim ini juga bekerjasama dengan pemerintah dan bidang industri menengah untuk menguji hasil penelitian yang sudah dilaksanakan.

"Dari awal terbentuk, kami sudah memiliki fokus untuk mempelajari proses pematangan buah dan penghambatan proses tersebut, baik pra maupun paska penanaman. Penelitian ini juga tidak hanya dapat diaplikasikan pada pisang saja melainkan semua jenis buah-buahan. Ada banyak aspek yang sudah kami teliti seperti rekayasa genetik, rekayasa kondisi atmosferik, serta gravitasi. Akan tetapi penelitian ini akan jadi sia-sia jika tidak aplikasi yang konkret setelah penelitian tersebut. Oleh karena itu kami menjalin banyak kerjasama dengan berbagai pihak terutama teman-teman dari keilmuan teknik, sehingga dapat dihasilkan produk yang dapat digunakan oleh masyarakat secara luas. Output yang kami hasilkan tidak muluk-muluk, hanya saja produk tersebut agar dapat meningkatkan produksi pisang, terutama untuk petani kecil dan menengah," kata Fenny.