Logo

Berita

Institut Teknologi Bandung

20 October 2014
Current weather
28.4 C
Humidity:45 %

BANDUNG, itb.ac.id - Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari kegiatan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kebutuhan tersebut dijawab dengan munculnya berbagai teknologi pada alat transportasi. Pada abad ini sudah cukup dikenal adanya moda transportasi yang canggih seperti kereta cepat, monorail, shuttle bus, dan lain-lain. Adanya teknologi baru yang lebih baik dan efektif seharusnya dapat menyelesaikan masalah transportasi. Namun saat menengok kenyataan yang ada di Indonesia, meskipun telah ada inovasi pada angkutan umum seperti perbaikan halte, penambahan armada angkutan umum, pemisahan penumpang pria dan wanita, ternyata hal tersebut belum sepenuhnya mampu menyelesaikan problema transportasi melalui peningkatan minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum tersebut.

Transportasi umum idealnya digunakan oleh sebagian besar masyarakat kota. Untuk itu kemauan masyarakat untuk menggunakan transportasi umum tersebut perlu diperhatikan dan direncanakan oleh pemerintah maupun pihak terkait. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah pembangunan sebuah sistem informasi perencanaan yang mendorong kemauan masyarakat untuk menggunakan angkutan umum. Kemauan masyarakat ini didorong dengan adanya informasi yang menawarkan beberapa alternatif rute beserta moda transportasi yang dapat dipilih sehingga masyarakat mengetahui apa moda transportasi yang tersedia dan bisa mereka gunakan.

Temuan yang didapat oleh mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota ITB menunjukkan bahwa sistem informasi transportasi untuk Kota Bandung sudah ada, namun ini tidak dapat digunakan oleh seluruh masyarakat karena keterbatasan jaringan internet atau keterbatasan alat. Rizky Ardian Hidayat, Titis Astri Mauliawati, dan Azwar Gani Sofyan (Perencanaan Wilayah dan Kota 2009) memiliki sebuah gagasan tentang suatu sistem informasi perencanaan yang dapat membantu memecahkan masalah transportasi umum. Sistem informasi ini berupa suatu alat yang akan ditempatkan di beberapa titik halte/shelter sehingga masyarakat dapat mengakses informasi ini dengan mudah.

Alat yang diberi nama Integrated Route Detector ini terdiri dari 10 layar interaktif yang berisi narasi, peta dan juga layar-layar pilihan lainnya dan terhubungan dengan jaringan internet. Layar-layar ini berisi informasi peta lokasi alat, peta rute yang bisa dipilih, pilihan destinasi, laporan kemacetan, dan rekomendasi pemilihan rute berdasarkan indikator tarif angkutan umum, waktu tempuh, kenyamanan, dan waktu berhenti menunggu menumpang.

Integrated Route Detector

Pengoperasian alat ini diawali dengan memilih titik destinasi. Pilihan destinasi yang tercantum pada alat ini adalah lokasi-lokasi yang sering dikunjungi. Konsep ini mengikuti teori transportasi yaitu Trip Origin and Destination (Bangkitan dan Tarikan Perjalanan). Jadi lokasi-lokasi destinasi yang tercantum sudah memperhitungkan berapa besar bangkitan dan tarikan perjalanan yang dihasilkan oleh lokasi tersebut. Semakin tinggi bangkitan maka kendaraan yang keluar dari lokasi tersebut semakin banyak dan semakin tinggi tarikan maka kendaraan yang masuk ke lokasi tersebut semakin banyak.

Setelah memilih destinasi, alat ini akan menunjukkan 3 alternatif rute yang memberikan informasi mengenai waktu dan jarak dari setiap rute. Tampilan ini seperti layaknya peta GoogleMaps. Kemudian dibawah layar tersebut, kita dapat melihat laporan kemacetan yang terjadi pada rute tersebut. Tampilan laporan kemacetan ini bekerja sama dengan Kepolisian Lalu Lintas. "Mereka (Polisi Lalu Lintas) pasti memiliki laporan kemacetan di sepanjang ruas jalan di Kota Bandung. Nah, kita memanfaatkan informasi tersebut untuk ditampilkan pada 3 layar di alat ini," ujar Rizky.

Jika layar-layar yang telah disebutkan diatas berlaku umum, baik untuk kendaraan pribadi maupun angkutan umum, maka layar selanjutnya adalah informasi yang khusus ditujukan untuk pengguna angkutan umum. Layar-layar ini berisi pilihan angkutan umum yang melewati rute serta pertimbangan dalam memilih komposisi angkutan umum yang dapat dipilih. Untuk semua pilihan komposisi angkutan umum, layar ini akan mengurutkan komposisi mana yang paling baik jika diurutkan berdasarkan kriteria tertentu. Satu layar berisi satu kriteria,yaitu tarif, waktu tempuh, kenyamanan, dan waktu berhenti menunggu penumpang. Terakhir, kita dapat melihat rangkuman urutan untuk 4 kriteria tersebut pada layar yang berisi narasi pertimbangan pemilihan angkutan umum.

Berawal dari Tugas Kuliah

"Awalnya hanya untuk pengumpulan tugas mata kulah Sistem Informasi Perencanaan. Tapi karena melihat informasi lomba di internet dan temanya tentang Green Transportation, kami tertarik untuk ikut," kata Rizky. Awal November 2012, ketiga mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota ini membawa gagasannya pada Lomba Karya Tulis Indonesia (LKTI) yang diadakan oleh Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Ajang ini merupakan sebagian dari rangkaian acara Civil Week UNS 2012 yang bertemakan "Innovation on Green Transportation". LKTI ini diikuti oleh 24 tim dari tingkat nasional yang umumnya mahasiswa teknik sipil dari universitas-universitas ternama.

Keikutsertaan tim ITB ini pada ajang tersebut disambut baik oleh pihak panitia. "Kami satu-satunya peserta asal ITB," cerita Titis. Walaupun hanya mengirim satu tim, namun tim ini berhasil mengharumkan nama ITB dengan menjadi juara 3 pada LKTI di tingkat Nasional ini. Pada tim Kantor Berita, mereka memaparkan bahwa ini adalah pengalaman pertama dalam mengikuti lomba keprofesian. "This is our first time, and we won!" ujar Rizky sebagai ketua tim. Mereka mengaku bangga dengan pencapaian ini karena berhasil mengharumkan nama ITB dan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.