Logo

Berita

Institut Teknologi Bandung

1 November 2014
Current weather
30.6 C
Humidity:53 %

UKM ITBBANDUNG, itb.ac.id- Berdiri 34 tahun yang lalu, Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB terus mempertahankan eksistensinya dengan secara rutin mengadakan pagelaran seni. Terakhir, malam 25 April 2009 menjadi pengingat betapa kayanya budaya nasional melalui budaya minang yang ditampilkan secara apik oleh mahasiswa-mahasiswa ITB Berlangsung selama empat jam, Malam Pagelaran Kesenian Minangkabau menyita perhatian sekitar 800 penonton yang hadir di Sasana Budaya Ganesha ITB

Di awal pagelaran, penonton disambut tari Galombang Pasambahan yang menandakan keramahtamahan dan kerendahan hati orang minangkabau kepada para tamu. Kemudian, acara dilanjutkan dengan teater "Sasa Baganti Harok" yang berarti sesal berganti harapan. Teater menjadi sangat menarik karena menampilkan perpaduan antara tiga jenis seni, yaitu drama, musik, dan tari-tarian khas Minangkabau.

Bertemakan tentang peranan pemuda di masyarakat, teater ini mengisahkan perjuangan pemuda dalam membantu suatu nagari lepas dari belenggu datuak atau pemimpin yang zalim. Tokoh Imam Barakat adalah tokoh central dari pemuda yang berusaha menghentikan kediktatoran Datuak Rangkayo Sati, Ayahnya sendiri. Tari Tapuak Tingkah menggambarkan kekontrasan antara kehidupan rakyat nagari Silungkang, nagari dimana Datuak Rangkayo Sati berkuasa, yang sengsara dengan kehidupan Datuak Rangkayo Sati yang penuh dengan kesenangan.

Berbagai rintangan dan cobaan silih berganti berupaya menghentikan niat dan semangat Imam Barakat untuk menyelesaikan misi kemanusiaannya itu. Keteguhan hati Imam Barakat diwakili oleh sebelas muda-mudi yang menarikan tari Rantak, tari yang mengobarkan semangat para pemuda.

Saluang, sarunai, talempong, gandang, dan banyak lagi macamnya bersatu padu dalam harmoni menghasilkan alunan musik kreasi. Musik klasik Canon Pachelbel yang dimainkan dalam beberapa ritme yang berbeda tampil apik di tangan musikus tradisional Minang ini.

Secara keseluruhan, pagelaran ini menampilkan tujuh macam tarian, dibuka dengan tari Galombang Pasambahan hingga ditutup oleh penari Piriang Manggaro. Imam Barakat sebagai pembawa harapan baru memberikan pesan bahwa segala kebaikan diharapkan menjadi alunan seni yang selalu memberikan pencerahan bagi hidup kita dan keburukan yang ada kita jadikan sebagai pembelajaran hidup untuk berbuat yang lebih baik lagi.

Teater ini disutradrai oleh mantan pemain drama dies UKM ke-32 dan 33, Afdhal Rizki. Rizki membawa pembaharuan di dunia seni drama UKM dengan merekrut pemain yang mayoritas adalah pendatang baru -mahasiswa TPB- dengan talenta luar biasa.